+6285729*****4 ceritavakansi@gmail.com

Ben tampak tercengang memandang kedai filosofi kopi Melawai tertulis “tutup”. Ia kembali atas dasar pertimbangan hati dan dorongan ayahnya untuk kembali menjadi barista di kedai filosofi kopi yang ia rintis bersama Jody, sahabatnya. Ben baru saja dilepas ayahnya untuk bebas memilih mencintai kopi. Ayahnya, dengan rela dan yakin mampu hidup sendiri tanpa Ben disisinya, di kampung halamannya.

Pencarian kopi seharga satu milyar memang mengubah hidup Ben. Biji kopi perfecto yang sangat diyakini Ben adalah biji kopi terbaik dimentahkan oleh sebuah biji kopi bernama Tiwus. Tiwus adalah biji kopi yang ditanam di sebuah pedesaan di lereng gunung. Nama yang sekilas aneh namun memiliki makna mendalam tentang kenangan seorang ayah yang kehilangan putrinya. Tentang kopi yang benar-benar ditanam layaknya mengasihi seorang anak manusia.

Sejenak lamunan Ben terpecah oleh suara klakson Volkswagen Combi modifikasi dari sisi jalan lain yang muncul secara tiba-tiba. Astaga, itu Jody dan kru filosofi kopi. Jody benar-benar nekat dengan menjual kedai untuk menutup hutang warisan ayahnya dan berencana memulai petualangan baru. Tentu saja, Ben kali ini mengamini apa yang Jody lakukan. Terlihat membahagiakan kedua sahabat yang keras kepala ini kembali satu tujuan.

Salah satu jejak perjalanan Ben dan Jody ada di Jogja. Loh kok bisa? Tentu saja alur cerita lanjutan dari film filosofi kopi dapat ditebak dengan adegan terakhir dari film pertama. Ben dan Jody menggunakan kendaraan berjalan untuk menebarkan rasa cinta mereka terhadap kopi. Mereka merencanakan perjalanan mencari kopi terbaik nusantara.

Sebuah kedai dengan nama yang sama muncul di Jogja. Ya, kedai Filosofi Kopi Jogja namanya. Tempatnya tidak terlalu strategis menurut saya. Berada di Jogja bagian utara yang jauh dari hingar bingar bisingnya perkotaan, tidak seperti di Melawai yang dekat dengan akses perkotaan dan pertokoan.

Namun tentu saja lokasi keberadaannya memberikan keunikan tersendiri. Bangunannya pun tidak se-modern di Melawai. Kedai filosofi kopi Jogja lebih mengusung arsitektur tradisional. Kedai ini pun punya tagar sendiri di media sosial yakni #NgopidiJoglo. Silakan kalian ketik tagar tersebut di media sosial.

Mengingat seduhan dan sesapan kopi Perfecto dan Tiwus dilakukan di bawah bangunan Joglo jawa. Kesan adem dan lebih privat akan kalian dapatkan di tempat ini. Saat saya mengunjungi tempat ini yang kebetulan pada bulan puasa, suasana masih sepi dan belum ramai. Entah kalau sekarang ini, promosi film kedua Ben dan Jody mulai gencar dilakukan. Kira-kira pertengahan Juli mendatang, kisah perjalanan mereka akan dapat disaksikan.

Kembali ke kedai. Saya memesan secangkir Caffe Latte di saat sore yang gerimis itu. Pertimbangan saya adalah biji kopi perfecto yang digunakan sebagai bahan dasar. Dengan sedikit obrolan di sela-sela sibuknya barista berambut gondrong, saya akhirnya tahu perfecto ternyata berasal dari perpaduan dua biji kopi. Sumbernya, dari sebuah tempat kopi roastery di Semarang. Tiwus yang kemudian juga saya tahu berasal dari dataran tinggi Ijen, urung saya coba kenikmatannya. Tentu saja, ini dapat saya jadikan alasan untuk kembali lagi di tempat ini.

Filosofi Kopi Jogja

Cukup lama saya menikmati berbuka dengan menyesap Perfecto ditemani rintik hujan dan sekaleng french fries hangat dari kedai filosofi kopi Jogja. Saya menunggu benar-benar reda untuk pulang. Tidak ingin melewatkan momen tenang di kedai ini. Saya berharap kalian juga dapat menikmatinya, cobalah datang ke kedai ini. Semoga masih ada sisa-sisa ketenangan sebelum filmnya benar-benar ditayangkan.

Kedai Filosofi Kopi Jogja

Jalan Pandhawa, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta

Buka: 16.00-23.00 WIB