+6285729*****4 ceritavakansi@gmail.com

Mataram Culture Festival 2: Parade Bocah Dolanan

Parade Bocah Dolanan adalah salah satu acara inti dari Mataram Culture Fest 2 yang berlangsung di kawasan Malioboro pada Sabtu, 15 Juli 2017. Ada tujuh spot pertunjukan permainan anak-anak jadul yang dihadirkan oleh lima desa/sanggar kesenian. Scroll halaman ini kebawah untuk melihat keseruannya.

Parade Bocah Dolanan adalah salah satu acara inti dari Mataram Culture Fest 2 yang berlangsung di kawasan Malioboro pada Sabtu, 15 Juli 2017. Ada tujuh spot pertunjukan permainan anak-anak jadul yang dihadirkan oleh lima desa/sanggar kesenian. Tentu saja acara ini menjadi tontonan menarik bagi pengunjung kawasan Malioboro. Termasuk saya yang sengaja ingin bernostalgia dengan dolanan-dolanan yang dulu sangat sering dimainkan.

Jaman gadget tidak ada, bermain dikebun bambu yang rindang menjadi keasikan. Bahkan, tak perlu bawa uang di tangan asal ada banyak teman, ide untuk membuat permainan selalu muncul dengan sendirinya. Begitu indah kreativitas kami waktu itu. Beberapa orang baper (bawa perasaan) soal masa kecil menyebut mereka sebagai “Generasi 90an”. Saya sendiri mengamini dan haqqul yakin soal ide kelompok baper bernama Generasi 90an ini.

Baper bukan hal yang salah. Apalagi soal kenangan manis bermain sewaktu kecil. Ditambah, saya sendiri sudah punya anak yang sebagai orang tua merasa memiliki beban saat melihat anak-anak jaman sekarang lebih suka bermain dengan gadget gawai atau apapun. Anak-anak lebih suka dengan kehidupan rumahan. Tiada lagi bermain bersama di kebun tetangga, tiada kenakalan anak-anak yang wajar seperti mengambil buah mangga milik tetangga yang galak. Miris, kenakalan anak-anak sekarang lebih banyak berujung aksi perundungan. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi di ibukota.

Kembali saya patut bersyukur dan berterima kasih kepada Dinas Pariwisata DIY yang menyelenggarakan acara Mataram Culture Fest 2 yang salah satu acaranya adalah Parade Bocah Dolanan. Saya bernostalgia walaupun hanya dalam pandangan karena parade tersebut dimainkan oleh anak-anak yang berasal dari beberapa desa dan sanggar di wilayah DIY.

Saya teringat konyol namun menyenangkannya dulu saat bermain Jamuran seperti yang dimainkan oleh Sanggar Saraswati, Gunungkidul. Atau betapa bahagianya saya bermain hanya dengan karet gelang yang disambung menjadi tali untuk bermain lompat tali yang saat acara Parade Bocah Dolanan dimainkan oleh anak-anak Desa Monggang, Bantul.

Acara bernostalgia dolanan bocah pada sabtu yang cerah itu dimulai dari pukul 2 siang. Dengan formasi tujuh titik (spot) berbeda yang dimulai dari depan Dinas Pariwisata DIY. Para penikmat nostalgia berjalan dari kantor Dinas menuju selatan. Permainan Egrang adalah sajian dolanan bocah pertama, dilanjutkan dengan dolanan Bathok, Lompat Bambu, Jamuran, Lompat Tali, Dingklik Oglak-aglik, Ancak Alis dan diakhiri oleh Sanggar Icipili Mitirimin yang menampilkan kreativitas sanggarnya.

Parade Bocah Dolanan tidak dimainkan serentak sehingga para penonton yang ingin menyaksikan dari awal disarankan mengikuti rute dari Dinas Pariwisata DIY sampai berakhir di kawasan Nol Kilometer. Kebetulan juga konsep ini juga dilakukan karena masih satu acara dengan lomba fotografi yang juga menjadi bagian dari Mataram Culture Fest 2. Setiap sekitar 20 menit anak-anak yang memainkan dolanan bocah akan bergeser menghampiri yang lainnya.

Agar kalian dapat merasakan keasikan saya bernostalgia. Saya membuat artikel ini dalam garis waktu. Dimulai pukul 2 siang saat permainan Egrang dimulai dan diakhiri pukul 4.30 sore saat saya mulai berbaur dengan keseruan anak-anak Icipili Mitirimin.

MATARAM CULTURE FESTIVAL 2

mempersembahkan

PARADE BOCAH DOLANAN

GARIS WAKTU

14.00 WIB

SPOT 1 – EGRANG

DINAS PARIWISATA DIY

Parade Bocah Dolanan dimulai dengan sebuah permainan masa kecil yang bagi saya sedikit “sulit”. Egrang namanya, sebuah permainan bocah yang menggunakan bambu sebagai perantara. Sepasang bambu panjang dilubangi hampir mendekati ujung untuk dimasuki bambu lain yang berukuran lebih pendek sebagai pijakan sehingga sedikit membentuk huruf L. Sepasang kaki harus berada di pijakan tersebut dan berjalan dengan memegangi bambu. Asiknya permainan ini adalah kita akan terasa lebih “tinggi” dari biasanya. Sekilas, terlihat gampang namun saya hingga kini tidak dapat melakukannya.

Sayang bambu yang dibawa anak-anak dari Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul di acara Parade Bocah Dolanan rata-rata berukuran kecil. Bertolak belakang dengan badan saya yang besar. Rasanya asik melihat para anak-anak tersebut bermain. Padahal dalam hati ingin sekali mencoba permainan Egrang untuk kesekian kali. Tapi ada seorang bule yang nekat dan terlihat senang memainkan egrang dengan anak-anak lainnya. Ah, ngiri saya.

14.20 WIB

SPOT 2 – BATHOK

DEPAN DPRD DIY

Karena dulu saat di desa keluarga saya masih menggunakan tungku kayu untuk memasak, maka permainan ini terkadang membuat jengkel ibu saya. Bathok kelapa yang sengaja dijemur untuk digunakan sebagai bahan bakar yang biasanya lebih awet tersebut saya ambil untuk digunakan sebagai sepatu ala-ala. Tali panjang saya ikatkan ke kedua bathok melalui lubang yang dibuat di atas bathok. Tok tok tok, suara berisik namun asik biasanya memecah keheningan desa. Permainan yang biasa dilakukan adalah balapan. Pit stop layaknya pebalap MotoGP adalah saat tali yang saya gunakan putus.

Sudah sekian lama saya tidak melihat permainan bathok ini. Kalau boleh saya bilang, sangat lama. Spot ke-2, mengambil lokasi di depan DPRD DIY. Permainan bathok ini masih diilakukan oleh anak-anak dari Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Kalian juga dapat membuat permainan bathok ini sendiri. Walaupun sekarang rumah sudah tidak memasak dengan tungku, saya punya ide. Silakan kalian beli Es Degan dan minta bathok kelapanya.

14.40 WIB

SPOT 3 – LOMPAT BAMBU

DEPAN MALIOBORO MALL

Ini permainan yang membutuhkan ketangkasan. Kalau dilihat, indah seperti layaknya tarian. Anak-anak dari Sanggar Saraswati yang berasal dari Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul sukses memukau para pengunjung kawasan Malioboro yang menyaksikan mereka bermain. Saya pun demikian, melihat lincah kaki anak-anak melompat diantara empat bambu yang disilangkan.

Permainan lompat bambu ini dimainkan oleh delapan orang. Empat orang bertugas memegang bambu yang disilangkan. Sambil bernyanyi keempat anak-anak yang lain menari mengikuti irama. Jujur, permainan lompat bambu ini belum pernah saya mainkan saat kecil karena jarang saya jumpai. Berarti, permainan lompat bambu ini tergolong permainan yang langka. Bersyukur sebuah desa di Gunungkidul masih melestarikannya.

15.20 WIB

SPOT 4 – JAMURAN

DEKAT MUTIARA HOTEL

Jamuran adalah permainan yang paling sering dimainkan waktu kecil. Kita sebagai peserta permainan diwajibkan menirukan perintah yang diberikan oleh anggota yang terhukum. Kadang perintah-perintahnya begitu konyol. Paling konyol adalah menjadi patung atau benda yang diam.

Sanggar Saraswati dari Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul masih menjadi sanggar yang mengirimkan anak-anak desanya untuk bersuka cita di kawasan Malioboro yang padat. Beberapa pengunjung juga terlihat menggoda para anak-anak agar terganggu konsentrasinya saat bermain. Lucu dan menghibur.

15.40 WIB

SPOT 5 – LOMPAT TALI

DEPAN KEPATIHAN

Lompat tali juga menjadi permainan yang dulu sewaktu kecil sering dimainkan. Kali ini yang memainkannya adalah anak-anak dari Desa Monggang, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Para personilnya lebih kecil dari lainnya sehingga permainan mereka di depan Kepatihan terlihat imut-imut.

Sorak-sorai para pemburu gambar juga menjadi penyemangat para anak-anak tersebut. Mungkin karena banyak godaan, banyak anak-anak yang gagal melompat dan menjadikan suasana sore itu gayeng oleh ulah tingkah para anak-anak. Lompat tali ini juga permainan yang menyehatkan menurut saya, kita harus aktif bergerak dalam permainan. Coba bandingkan dengan anak-anak jaman sekarang, bermain lompat-lompatan cukup di Subway Surfer atau permainan gawai lainnya.

16.00 WIB

SPOT 6 – DINGKLIK OGLAK-AGLIK & ANCAK ALIS

DEKAT RAMAYANA

Permainan Dakon yang sedianya ada di dalam jadwal Parade Bocah Dolanan ternyata tidak saya temukan di spot ke-6 dekat Ramayana ini. Saya lalu bertanya ke salah satu ibu dari anak-anak yang sedang bermain. Ternyata di spot ke-6 ini mereka menampilkan dua buah permainan. Pertama adalah Dingklik Oglak-Aglik dan yang kedua adalah Ancak Alis.

Dingklik Oglak-Aglik adalah permainan keseimbangan yang dimainkan oleh empat orang dengan tinggi yang hampir sama. Salah satu dari anak-anak saling mengait dan kemudian kita bernyanyi sembari mempertahankan keseimbangan. Ancak alis adalah permainan mirip tangkap ular. Peserta membentuk barisan seperti ular dan bernyanyi melewati dua orang yang siap menangkap salah satu peserta yang “kurang beruntung”. Kedua permainan di spot ke-6 ini dimainkan oleh Sanggar Langenastran yang berasal dari Kota Yogyakarta.

16.20 WIB

SPOT 7 – ICIPILLI MITIRIMIN

KAWASAN NOL KILOMETER

Icipilli Mitirimin ini bukan nama sebuah permainan namun nama sebuah ruang atau boleh dibilang kelompok bermain untuk anak-anak yang ada di Studio Omah Cangkem milik Pardiman Djoyonegoro yang terletak di Dusun Karangjati, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Icipilli Mitirimin ini menampung anak-anak yang berminat untuk bermain dan bernyanyi secara tradisional. Misi utama Icipilli Mitirimin ini adalah mengembalikan keceriaan dan keasikan anak-anak seperti dahulu.

Saya sedikit telat saat menuju spot terakhir ini. Sudah hampir selesai. Namun saya sempat sedikit berbaur dengan keceriaan mereka. Ternyata, mereka sedang membuat karya dari daun kelapa muda. Salah satu anak yang saya ambil gambarnya sedang membuat pedang-pedangan dari daun kelapa tersebut. Omah Cangkem yang menjadi induk dari Icipilli Mitirimin ini tergolong sanggar seni yang sudah modern. Saya melihat dari brosur yang dibagikan. Mereka sudah melakukan pembinaan bukan lagi sekedar tempat berkumpul saja. Luar biasa.

Nah, begitu mengasikan bukan acara Parade Bocah Dolanan pada Mataram Culture Fest 2 tahun ini. Selain baper karena nostalgia dengan permainan masa kecil. Saya mendapatkan hiburan yang lain dari biasanya. Semua itu dipersembahkan oleh anak-anak lucu dari beberapa desa dan sanggar di wilayah DIY. Semoga tahun depan acara dapat lebih dari sehari dan lebih banyak permainan lain yang ditampilkan.

Tabik.

Mataram Culture Festival 2: Parade Bocah Dolanan

by | Jul 18, 2017 | Blog, Event | 8 comments